Aku msh saja tercenung mendengar permintaan Akbar, putraku yg duduk di bangku sekolah dasar kelas empat. Usianya memang baru 9 tahun, tetapi cara berpikirnya dewasa sekali. Aku malu, takjub sekaligus haru. Kupandangi wajahnya yg tampan. Ah,…,aku spt melihat dlm cermin. Dua pekan yg lalu, Akbar bertanya padaku apakah bosku jahat sehingga aku harus terus-menerus bekerja siang dan malam. Bahkan sering2 waktu libur juga hrs kuisi dgn tugas ke luar kota atau mengikuti seminar di luar negeri. Tentu saja waktuku untuknya sedikit sekali. Untungnya istriku, ibu rumah tangga yg baik. Aku bangga dan tidak salah memilihnya mjd ibu bagi anak2ku. Walau istriku, Muthia, seorang wartawan paruh waktu di sebuah media cetak ternama di kota ini, tetap saja dia menomorsatukan aku dan Akbar, keluarganya. Padahal kalau dia mau, karier sbg wartawan profesional bisa diraihnya.

”Tapi kan Akbar nggak bisa main sama mama terus, Pa?Mama nggak enak diajak berantem-beranteman. Mama jg nggak jago main catur apalagi ngajarin Akbar renang. Lihat air saja Mama sdh takut,”protesnya suatu hari. Tetapi lagi2 kesibukanku menghadangku bercengkrama dgnnya. ”Pa..,Akbar kangen tuh. Mbok ya luangkan wkt sedikit. Karier kita bukan Cuma di kantor kan, Pa? Tapi juga disini. Di rumah ini. Mjdkan Akbar dan adik2nya kelak mjd anak yg saleh dan salehah. Aku msh sj memandangi wajah polosnya. Tak terasa air mataku menitik dan jatuh membasahi pipi Akbar. Sttt…,kutepuk-tepuk punggungnya agar kembali tidur.

Pukul 22.30 WIB tadi ktk Muthia membukakan pintu, dia berbisisk bahwa Akbar belum tidur krn menunggu sejak sore tadi. Astaghfirullah! Aku baru ingat, kalau aku berjanji akan pulang sore untuk menemaninya bermain catur. ”Eh, Papa,. Baru pulang, Pa?Capek ya? ”tanya Akbar yg terdengar biasa saja justru membuat hatiku pontang-panting.’Aduuuh,…maafin Papa, ya sayang. Papa ada rapat medadak,”kataku mencoba mengajak hatinya dan mendekapinya duduk di ruang keluarga. Kulihat di atas meja sudah terbuka papan catur berikut buah2 catur yg sdh disusun rapi. Disebelahnya kulihat celengan plastik berbentuk mobil VW milik Akbar terbuka dan ada tumpukan uang didekatnya. ”Nggak pa2 kok, Pa. Kita jadi main catur kan,Pa? Nih, sudah Akbar siapin dari tadi papan caturnya, Pa. Oh ya Pa, boleh nggak Akbar pinjam uang.” Tanyanya sambil menghitung uang miliknya. Malam2 begini pinjam uang untuk apa,pikirku. ”Boleh dong sayang. Tapi untuk apa malam2 begini Akbar pinjam uang sampai membobol celengan segala?”tanyaku sambil mengeluarkan dompet bersiap-siap mengeluarkan berapa rupiah pun yg dibutuhkan Akbar. Ah…, rasa bersalah terus menggumpal dan makin menyesakkan dadaku. ”sepuluh ribu deh,Pa,”jawabnya sambil mengumpulkan hasil tabungannya. Kusodorkan selembar puluhan ribu sambil sekali lagi kutanya untuk apa uang2 tersebut.

”Gini Pa..kata Mama, Papa tuh sibuk bukan karena nggak sayang sama Akbar. Tapi karena Papa sibuk sekali dan waktu Papa sangat berharga. Jadi, Akbar tanya sama Mama, gaji Papa tuh berapa sih?. Mama bilang pokoknya cukup untuk kita bertiga. Jadi Akbar kira2 saja. Kalau Mama bilang waktu Papa sangat berharga, pasti gaji Papa gede. Pasti Papa banyak dapat uang dari bos Papa. Karena waktu libur juga Papa pakai buat kerja. Nah, Akbar kira2 kalau dihitung per jamnya gaji Papa seratus ribu, berarti kalau setengah jam jadi lima puluh ribu, kan Pa? Benar?”tanyanya meminta persetujuanku. Aku menganguk perlahan sambil mereka-reka kemana arah pembicaran ini. ”uang tabungan Akbar ini baru ada empat puluh ribu, makanya Akbar pinjam Papa sepuluh ribu, karena Akbar pingin beli waktu Papa untuk bemain catur selama setengah jam. Boleh kan, Pa?Oh ya, ini uangnya lima puluhribu, Pa. Nanti yg sepuluh ribu Akbar ganti kalau tabungan Akbar sudah cukup ya…Nah, sekarang yuk, Pa kita main catur.” Aku tak tahu apa yg harus aku lakukan saat putra kandungku meletakkan uang2 receh hasil tabungannnya plus selembar puluhan ribu di atas telapak tanganku. Ya Allah, ternyata anakku, anak yatim.

Dikutip dr Chici sukardjo “Bolehkah aku memanggilmu ayah”